Selasa, 04 Desember 2012

Lirik lagu keadilan
shong : Nidji-Keadilan

  • Keadilan


    kami
    bukanlah generasi muda yg tolol
    kami
    muak dengan ketidakadilan ini

    mau sampai kapan mereka disiksa mati
    padahal mereka menyumbang besar untuk negara

    kami
    bukanlah generasi muda apatis
    kami
    muak melihat hukum dijual murah

    gayus tanpa malu
    bebas bagaikan turis
    tingkah laku blagu
    pake wig lucu tak tahu malu

    anak muda
    teriakkan keadilan
    Indonesia
    perjuangkan keadilan

    orang bijak bilang
    yang benar pasti akan menang
    terkutuk mereka
    yang membunuh dan yang korup

    belalah bangsamu
    janganlah engkau pernah takut
    ku tunggu dirimu
    digerbang jayanya keadilan

    aku muak
    aku benci
    kita dinjak injak

    aku sedih
    melihat ibu bangsa menangis

    keadilan
    keadilan
    demi bangsa
    itulah hak kita
    keadilan

CERPEN KEGELISAHAN...



Mulai awal tahun ini hingga hari ini, ada satu kegelisahan yang mampir menambah beberapa kegelisahan pikiran Z. Sang pendatang baru itu benar-benar membuat Z pusing. Tidak tahu Z harus berdiri di posisi mana. Semua pilihan sepertinya akan menuai salah. Bingung!
Sampai suatu hari, di lima bulan silam, Z seperti menemukan diri Z (kemungkinan setelah lulus kuliah beberapa bulan lagi, InsyaAllah) dalam tokoh Sandra di cerpen Selamat Malam, Malam karya Benny Arnas. Maka Z postingkan cerpen itu di rumah Z ini (Alhamdulillah pengarangnya telah mengizinkan ^_^). Mungkin engkau pun mempunyai kegelisahan yang sama dengan Z dan Sandra, serta engkau ternyata juga menemukan dirimu dalam Sandra. Setidaknya kita bisa saling berbagi dan memberi masukan untuk mengurangi kegelisahan itu (atau bahkan bisa memecahkannya, kan? :D)
Nah, selamat membaca! ^_^
*******************

Selamat Malam, Malam
(Dimuat di Harian Global Medan, Sabtu 3 Juli 2010)
Oleh : Benny Arnas
Di beranda ini, kuhela napas perlahan. Mencoba melepaskan semua penat dan tuntutan yang beberapa waktu terakhir berlomba-lomba memerudukkanku. Ah, tiada apa yang bisa menjamin sebuah kebahagiaan, selain kemahiran bersikap arif terhadap semua ketentuan, bukan?
Entah, apakah tengah berfalsafah atau sekadar mengalihkan penyesalan-dan sedikit keperihan-terhadap keputusanku satu bulan yang lalu untuk tidak ikut serta dalam hajatan akbar itu. Aku tak tahu....
Yang coba kuselami saat ini adalah, bahwa ada sekuntum sunyi yang masih betah berlama-lama tumbuh di dahan malam yang basah. Entah bagaimana, kegelapan dan air langit yang jatuh satu-satu di tempias daun pisang di salah satu sisi pagar, seakan-akan sengaja bertaut demi merajut kesyahduan ini: Sebuah potongan masa yang begitu asyik untuk ditekuni dengan bermenung-menung. Ah, sepertinya aku terlalu mendramatisir keadaan, ya? Mungkin. Namun... jujur, setidaknya itulah yang aku rasakan.
Aku tahu, dari gaya tuturan yang kulontarkan pada mega yang belum menggantungkan bulan di sana, mudahlah bagi kalian untuk menebak seperti apa perasaanku saat ini. Bahagia; sedang jatuh cinta; mencari inspirasi untuk sebuah puisi cinta; baru saja bertemu seorang CEO sebuah penerbitan yang-entah bagaimana asal mulanya-mau menerbitkan sajak-sajakku; atau.... oww, tidak, Kawan! Semua kemungkinan-kemungkinan yang elok didengar, wangi diendus, dan (tentu saja) bergairah untuk diimpikan itu, tiadalah benar adanya. Tak ada itu! Satu kata saja yang akan mewakili apa-apa yang sedang berkeriapan dalam sanubariku: Sentimental.
Aku tak tahu, bagaimana ketersentuhan psikologis itu menderaku. Aku hanya mencoba meyikapi semua yang berlaku pada karib-karibku itu dengan kebijaksanaan yang benar-benar kuupayakan. Aku tengah mengurainya menjadi sebuah perasaan bahagia yang sejatinya memang layak kubahagiai.
"Sanra, lihatlah mereka! Berhasil semua, bukan?"
Aku hanya tersenyum sabit ketika Ibu mengatakan itu beberapa hari yang lalu. Takkah Ibu lihat bahwa aku sudah berupaya membantu keuangan keluarga dengan apa-apa yang kubisa? Memang, mungkin, di mata sebagian sesiapa, apa-apa yang kugiati masih dipandang seperdelapan mata, termasuk oleh orangtuaku sendiri.
"Bukan itu perkaranya, Sanra. Bagaimana kalau kau tua nanti. Apa masih kuat bekerja? Mau kau kasih makan batu anak-binimu?"
Nah, pada Ayah, aku tak semringah-raya ketika ia berkoar, menimpali kata-kata ibu sebelumnya. Aku tak mau-bukannya takut-ayah justru menanggapi reaksiku itu sebagai bentuk peremehan terhadap tuntutannya-bersama Ibu.
Memang sampai sejauh ini, ketiga adikku tak banyak menuntut seperti kedua orangtuaku. Namun, itu hanya masalah pembicaraan di permukaan. Maria yang kini kuliah di semester VII di sebuah Universitas di luar kota pernah mengatakan bahwa rumah kami di Perumnas akan dijualnya demi berpenghidupan dengan cara itu. Aku sempat menentang niatannya itu, namun Ayah dan Ibu justru membelanya.
"Kakak takut tak dapat warisan rumah itu, kan?"
Kalau tak ingat kalau adikku itu adalah seorang perempuan, sudah kugampar ia saat itu juga.
Masri. Adikku nomor dua yang kuliah di semester awal di sekolah tinggi setingkat universitas di kota ini tentu saja masih belum dapat dipastikan bagaimana prinsip hidupnya: berseberangan atau selurusan denganku. Yah, semua berlaku karena hingga kini, biaya kuliahnya masih menjadi tanggunganku. Ketika telah diwisuda kelak, mungkinlah dapat terbaca, akan kemana pikirannya mengembara demi sebuah pekerjaan-mungkin juga kehormatan.
Bagaimana dengan si bungsu? Ai ai, terlalu subuh membicarakan bagaimana Dika yang masih kelas tiga SD itu mencanangkan hari depannya: Menyunggi-nyunggi sebuah gengsi (mungkin semu atau... entahlah!) dan strata 'terpandang' di tengah-tengah masyarakat, atau memilih berpenghidupan dengan apa-apa yang sekiranya bisa diperjuangkan sesuai dengan kecakapan yang dipunyainya. Ah, masih lama itu....
Cicak-cicak yang bercericikan di dekat ventilasi pintu, sekejap mengalihkan lamunanku. Tiba-tiba mataku seakan tersadar pada keadaan sekitar: Malam yang masih merangkak pelan-pelan.
Hai Malam, ada apa dengan mereka yang bersembunyi di balik jubah kelammu itu? Mengapa belum jua mereka menebar lampion biru segilima itu di sekujur gelapmu?
Ya ya ya, dimafhumilah, bebintang itu tertahan dalam renjananya karena malam masih rinai. Serombongan rintik masih setengah memaksa menyeruak dari kelam-raya, berganti-gantian melubangi tanah pekarangan ini. Ah, kadangkala aku berprasangka, bahwa mereka tengah menghiburku dengan instrumentalia alamnya, kesunyiannya yang memainkan melodi yang menyayat-nyayat.
"Sudahlah Sanra, kau teruskan saja pekerjaanmu berwirausaha itu?"
Terimakasih rinai atas pembelaan (atau hanya penghiburan?!) itu. Terimakasih sekuntum sunyi. Terimakasih sebatang malam. Terimakasih... oh ya, apakah aku harus mengucapkan kata itu padamu juga, wahai angin? Atas semua kabar-kabar yang bukan kabar-kabari yang kaukabarkan padaku beberapa hari yang lalu yang menjadi musabab kesemuanya: kemarahan ayah yang memuncak; kekesalan ibu yang remuk-redam; hingga perubahan sikap karib-karibku itu.
Yah, karib-karibku yang dulu kerap menyambangiku dan berdiskusi hangat di beranda ini, tiada pernah menampakkan batang hidungnya lagi.
Dulu, ada-ada saja yang kami bincangkan. Mulai dari kelambanan pemerintah menangani korban bencana alam, kesan ketidakpedulian mereka terhadap penjajahan Israel pada Palestina, tentang berbelit-belitnya birokrasi di negeri ini, tentang walikota terpilih yang ingkar janji, bla bla bla.... Kritis. Tajam. Menusuk hingga meletuskan gelembung adrenalin kami.
Dan... yang masih segar dalam ingatan adalah, kami semua pernah sama-sama turun ke jalan beberapa bulan yang lalu, demi menuntut penegakkan hukum terhadap beberapa orang dekat petinggi pemerintahan daerah yang terlibat kasus korupsi namun dibebaskan dalam sebuah persidangan tertutup.
"Baca itu, Sanra!"
Entah aku lupa, ayah atau ibu yang menyodorkan koran itu padaku di suatu pagi buta. Yang jelas, dengan sangat-sangat terang kulihat di sana. Nama-nama kawan-kawan diskusiku di antara leretan panjang nama-nama lain yang disertai nomor (entah nomor apa?) dan tanggal lahir mereka.
Tiba-tiba, suara sedikit riuh dari dalam rumah membuyarkan lamunan dan pengaduanku pada romantisme malam ini. Kulihat ayah, ibu, Masri, dan Dika sudah di muka pintu.
"Sanra, tadi adikmu Maria menelpon..."
"Ada bukaan di bulan depan!" Ibu memotong kalimat Ayah dengan semangat.
"Iya, Kak. Jangan nggak ikut lagi, ya?" timpal Masri.
Kulihat Dika hanya melongo memperhatikan mereka yang tiba-tiba saja berbicara dengan penekanan yang serius. Tak lama, ia mengalihkan pandangan ke arahku.
Keningku berlipat tiga, mempersilakan ia melempar kebingungan padaku.
"Tadi, abis Kak Maria nelpon, Ibu, Ayah, dan Kak Masri ribut-ribut..."
Hening.
"... PNS itu apa sih, Kak?" tanya Dika polos.
Aku bergegas meraih tubuh adik bungsuku itu. Menggendong sambil mengelitiknya, sebelum bergegas ke dalam. Meninggalkan Ayah, Ibu, Andika, dan sekuntum sunyi yang masih saja tumbuh di sebatang malam yang kelam, yang masih basah, yang kian resah.***
OH, BUNDA!
oleh: Alief Murobby

Rintik-rintik hujan akhirnya mulai turun, membasahi kota Jogja. Mendung yang sedari tadi menggelayut, kini mulai memuntahkan isinya. Beberapa pengendara motor mulai menepikan kuda besi mereka untuk sekedar berteduh ataupun memakai jas hujan. Dinginnya air hujan rupanya tak mampu mendinginkan panasnya hati Ava. Tanpa memedulikan tangannya yang mulai kebas akibat sengatan hawa dingin dan bajunya yang basah kuyup, Ava terus menggeber Astrea Grand-nya menuju kearah barat daya, tepatnya menuju kearah alun-alun utara keraton. Ditebasnya jalanan dengan sangat lincah, tak peduli dengan orang-orang yang mengumpat saat terkena cipratan air dari motornya. Pikirannya sangat kalut. Lalu tanpa diinginkannya, Ava kembali mengingat peristiwa yang membuat hatinya sangat marah itu.

***
“ Bun, uang buat bayar kuliah semester ini mana?” tanya Ava pada ibunya yang sedang menghitung uang hasil penjualan nasi pecel yang dijualnya tiap fajar di stasiun Lempuyangan. Raut muka ibunya langsung berubah. Gelisah.

“ Bunda cuma dapet segini, Le,” ucap Bunda seraya menyerahkan seluruh uang yang tadi dihitungnya. Ava agak kaget begitu menghitungnya kembali. Cuma dua ratus ribu lebih sedikit.

“ Bunda ini gimana sih? Kan aku udah minta sejak seminggu yang lalu, masak cuma segini? Kalau cuma segini, jelas nggak akan cukup.” Nada suara Ava mulai meninggi. Warna wajahnya pun mulai memerah, pertanda emosinya mulai tersulut. Bunda tahu persis hal itu. Insting seorang ibu, mungkin.

“ Tapi Bunda hanya punya uang segini, Le. Nanti kalau dagangan Bunda laris, uangnya buat kamu semua. Bu Nugroho, tetangga kita yang kaya itu, juga bersedia meminjami ibumu ini uang. Ndak usah kuatir,” ucap Bunda dengan logat khas Jogja, sembari mengelus kepala anak laki-lakinya itu, berusaha meredam emosinya. Dengan kasar, Ava menyentakkan tangan ibunya, lalu berteriak marah.

“ Bunda yang cuma tamat SMP tau apa?! Kalo besok aku nggak bayar biaya kuliah semester ini, aku bisa di-DO tau!” bentak Ava keras. Saking kerasnya, Nina adiknya, sampai keluar dari kamarnya.

“ Kakak apa-apaan sih?” tanya Nina.

Ava menjawabnya dengan ketus,” Diem kamu, anak kecil!”

“ Kakak tuh yang diem!” Emosi Nina ikut tersulut. “ Bicara sama orangtua tuh yang sopan. Malah dibentak-bentak. Dasar durhaka!”

Plak! Sebuah tamparan melayang ke pipi Nina.

“ Jaga mulutmu!” teriak Ava.

“ Kakak tuh yang jaga mulut!” Nina langsung membalas sambil memegangi pipi kirinya yang memerah akibat tamparan Ava. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Sang Bunda langsung memeluk anak perempuannya. Dia juga mulai menangis.

“ Udah, udah. Jangan berantem,” kata Bunda lirih. Ava langsung beranjak pergi meninggalkan kedua perempuan itu. Sang Bunda hanya berucap pelan, berulang-ulang.

“ Astaghfirullah.”

Tak terasa, Ava telah sampai di alun-alun utara. Suasana sore itu tak terlalu ramai, hanya ada beberapa lapak pedagang yang buka. Ava memilih duduk di salah satu bangku yang kosong, tepat dibawah pohon mahoni untuk mengeringkan pakaiannya yang basah dan menghilangkan sisa-sisa kejengkelan yang masih mengndap di dasar hatinya. Beberapa pengamen jalanan memainkan alat musik mereka. Ada gitar, harmonika, kendang, dan biola. Sederhana namun tetap nikmat untuk didengar. Tiba-tiba seorang violin jalanan duduk disampingnya. Kulitnya hitam, tapi raut wajahnya jenaka.

“ Mau request lagu, Mas? Cuma seribu per lagu,” tawar si violin. Ava merogoh sakunya dan menemukan uang dua ribu rupiah. Disodorkannya uang itu pada si violin.

“ Maen lagu apa aja, yang penting enak di telinga. Kembaliannya ambil aja.”

Si violin langsung bersiap mengambil nada awal. Saat biola mulai digesek, Ava kaget. Dia tahu persis lagu itu. Tak disangka, violin itu memainkan lagu bunda karya Melly Goeslaw. Tanpa sadar, Ava ikut bernyanyi mengiringi alunan lagu.

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

Air mata Ava keluar tanpa mampu ditahannya. Ia terus menangis hingga si violin selesai membawakan lagunya.

“ Kenapa, Mas? Terharu, ya? Lha wong keturunan Mozart, je! Hehehe,” canda si violin.

“ Mas sih enak masih punya motor,” lanjutnya. “ Punya rumah, punya keluarga. Pasti enak. Nggak kayak saya. Hidup pindah-pindah. Rumah nggak punya. Orangtua nggak tau dimana.”

Violin itu terdiam sejenak. “ Tapi walaupun gitu, saya tetap bersyukur kok. Syukur masih bisa makan. Syukur masih bisa maen biola. Syukur masih bisa hidup.”

Perkataan pengamen itu membuat Ava tersadar. Apa yang telah kulakukakan? batin Ava. Padahal Bunda telah bersusah payah menghidupiku, tapi aku malah membentaknya. Aku bahkan tega menampar adikku sendiri! Dasar bodoh! Ava merutuki kebodohannya. Dia menyesal, sangat menyesal telah mengasari ibunya dan menampar adik satu-satunya.

Violin itu berkata lagi,” Saya pernah didawuhi seorang Kyai. Beliau berkata,’ Untuk urusan dunia, jangan lihat ke atas, tapi lihatlah ke bawah. Lihatlah orang yang hidupnya lebih susah dari kita, supaya kita bersyukur sudah diberi nikmat lebih daripada orang lain.’ Gitu, Mas. Lho, lho, Mas. Mau kemana? Pulang?” tanyanya begitu melihat Ava bergegas menyalakan motornya. Ava ingin segera pulang ke rumah. Ke pelukan bunda.

Si violin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebingungan. “ Apa aku salah bicara, ya?”

Saat Ava telah sampai dirumahnya yang berada di kawasan Danurejan, dilihatnya sang Bunda sedang duduk di beranda. Nina duduk disamping ibunya dengan muka ketus. Begitu melihat ank laki-lakinya pulang, wanita itu segera beranjak mendekatinya. Senyum terpatri di wajah keibuannya.

“ Alhamdulillah Le, kamu sudah pulang. Udah Bunda bilang, soal biaya kuliah, kamu nggak usah kuatir.” Sambil bicara, Bunda merogoh kantong bajunya lalu menarik sebuah kalung emas. Bunda tersenyum lagi.

“ Nanti kalung ini akan Bunda gadaikan. Uangnya buat kamu semua.”

Mendengarnya, Ava semakin merasa dirinya adalah anak yang sangat durhaka. Kalung itu adalah mas kawin yang diberikan ayahnya saat menikahi ibunya dulu. Kalung yang sangat disayangi ibunya. Ia sering melihat ibunya menangis sambil memeluk kalung itu, mungkin karena teringat pada ayah yang telah lama meninggal.

“ Bunda, pokoknya jangan pernah menjual kalung ini. Soal biaya kuliah, biar nanti Ava cari sendiri.” Ava berkata sambil menahan air matanya. Bunda menatapnya dengan bingung.

“ Lho kok…” Tanpa memberi kesempatan pada Bunda untuk bertanya, Ava memeluknya dengan sangat erat.

“ Maafin Ava, Bunda,” ucap Ava lirih, lalu ia menangis dalam pelukan ibunya. Bunda hanya tersenyum kecil, lalu berujar sambil mengelus kepala Ava.

“ Ndak papa, ndak papa. Kamu ndak pernah punya salah sama Bunda. Yang penting, minta maaf dulu sama adekmu. Tadi dia nangis terus.” Ava melepaskan diri dari sang bunda, lalu berjalan menuju Nina yang terus menatapnya. Ava berlutut di depan adiknya.

“ Maafin kakak, ya?” Nina memandang kedua bola mata Ava dengan lekat, lalu tersenyum.

“ Apologies accepted,” jawab Nina, memaafkan kakaknya. Ava lalu meraih Nina ke dalam pelukannya. Sang Bunda lalu memeluk kedua anaknya dengan sayang. Saat itu Ava bersumpah, dia takkan pernah lagi membiarkan ibu dan adiknya menangis. Dia akan membahagiakan mereka, apapun yang terjadi. Tak ada yang dapat menghentikannya. Tak ada!
*****

Sumber : http://cerpen.gen22.net/2012/01/cerpen-kasih-sayang-oh-bunda.html
Manusia dan Keadilan
Setiap kehidupan manusia dalam melakukan aktivitas nya pasti pernah mengalami perlakuan yang tidak adil. Jarang sekali kita mengalami perlakuan yg adil dari setiap aktivitas yang kita lakukan. Dimana setiap diri manusia pasti terdapat suatu dorongan atau keinginan untuk berbuat jujur namun terkadang untuk melakukan kejujuran itu sangatlah sulit dan banyak kendala nya yang harus di hadapi, seperti keadaan atau situasi, permasalahan teknis hingga bahkan sikap moral.
Dampak positif dari keadilan itu sendiri dapat menghasilkan kreatifitas dan seni tingkat tinggi, karena ketika seseorang mendapat perlakuan yang tidak adil maka orang tersebut akan mencoba untuk bertanya atau melalukan perlawanan “protes” dengan caranya sendiri. Dan dengan cara itulah yang dapat menghasilkan kreatifitas dan seni tingkat tinggi seperti demonstrasi, melukis, menulis dalam bentuk apapun hingga bahkan membalasnya dengan berdusta dan melakukan kecurangan.

Arti dari keadilan itu sendiri adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori nya, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang sangat besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa “Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran”. Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai. “Kita tidak hidup di dunia yang adil”. Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.

Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan pelakuan yang seimbang antara hak-hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan kewajibannya. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi hak nya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama.

Adapun macam-macam keadilan sebagai berikut :
1.  Keadilan Legal atau Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjadi kesatuannya.Dalam masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat dasarnya paling cocok baginya (the man behind the gun). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan oleh yang lainnya disebut keadilan legal.
Keadilan timbul karena penyatuan dan penyesuaian untuk memberi tempat yang selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat.
Dan Ketidakadilan terjadi apabila ada campur tangan terhadap pihak lain yang melaksanakan tugas-tugas yang selaras sebab hal itu akan menciptakan pertentangan dan ketidak keserasian.

2. Keadilan Distributif
Aristotele berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan tidak sama (justice is done when equels are treated equally).

3. Kadilan Komutatif
Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum.Bagi Aristoteles pengertian keadilan ini merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.
4. Kejujuran
Kejujuran atau jujur artinya apa-apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya, apa yang dikatakan sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Untuk itu dituntut satu kata dan perbuatan, yang berarti bahwa apa yang dikatakan harus sama dengan perbuatannya. Karena itu jujur berarti juga menepati janji atau kesanggupan yang terlampir melalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam hati nuraninya yang berupa kehendak, harapan dan niat.
Sikap jujur itu perlu di pelajari oleh setiap orang, sebab kejujuran mewujudkan keadilan, sedang keadilan menuntut kemuliaan abadi, jujur memberikan keberanian dan ketentraman hati, serta menyucikan lagi pula membuat luhurnya budi pekerti.
Pada hakekatnya jujur atau kejujuran di landasi oleh kesadaran moral yang tinggi kesadaran pengakuan akan adanya sama hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap kesalahan atau dosa.
Adapun kesadaran moral adalah kesadaran tentang diri kita sendiri karena kita melihat diri kita sendiri berhadapan dengan hal yang baik dan buruk.

Kejujuran besangkut erat dengan masalah hati nurani. Menurut M.Alamsyah dalam bukunya budi nurani dan filsafat berfikir, yang disebut nurani adalah sebuah wadah yang ada dalam perasaan manusia. Wadah ini menyimpan suatu getaran kejujuran, ketulusan dalam meneropong kebenaran local maupan kebenaran illahi (M.Alamsyah,1986 :83). Nurani yang di perkembangkan dapat jadi budi nurani yang merupakan wadah yang menyimpan keyakinan. Kejujuran ataupun ketulusan dapat di tingkatkan menjadi sebuah keyakinan atas diri keyakinannya maka seseorang di ketahui kepribadianya.

Dan hati nurani bertindak sesuai dengan norma-norma kebenaran akan menjadikan manusianya memiliki kejujuran, ia akan menjadi manusia jujur. Sebaliknya orang yang secara terus-menerus berfikir atau bertindak bertentangan dengan hati nuraninya akan selalu mengalami konfik batin, ia akan selalu mengalami ketegangan, dan sifatnya kepribadiannya yang semestinya tunggal menjadi pecah. Untuk mempertahankan kejujuran, berbagai cara dan sikap yang perlu di pupuk. Namun demi sopan santun dan pendidikan, orang di perbolehkan berkata tidak jujur apabila sampai batas-batas yang di tentukan.

Kecurangan identik dengan ketidakjujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan licik meskipuntidak serupa benar. Kecurangan adalah apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nurani nya atau orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga dan tanpa adanya usaha. Yang dimaksud dengan keuntungan adalah keuntungan yang berupa materi. Mereka yang berbuat curang menganggap akan mendatangkan kesenangan atau kenikmatan, meskipun orang lain menderita karena nya. Kecurangan juga menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya dan senang bila masyarakat disekelilingnya hidup menderita. Orang seperti itu biasa nya tidak senang bila ada orang yang melebihi kekayaannya, padahal agama apapun tidak membenarkan orang yang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa menghiraukan orang lain dan lebih lagi mengumpulkan harta dengan jalan yang curang. Hal semacam itu dalam istilah agama tidak akan di ridhoi oleh allah dan akan mendapatkan dosa yang setimpal.

Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi orang atau tetangga disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya.
Ada peribahasa yang berbunyi “daripada berputih mata lebih baik berputih tulang” artinya orang lebih baik mati dari pada malu. Betapa besar nilai nama baik itu sehingga nyawa menjadi taruhannya. Setiap orang tua selalu berpesan kepada anak-anaknya “jagalah nama keluargamu!” Dengan menyebut “nama” berarti sudah mengandung arti “nama baik”. Ada pula pesan orang tua “jangan membuat malu” pesan itu juga berarti menjaga nama baik. Orang tua yang menghadapi anaknya yang sudah dewasa sering kali berpesan “laksanakan apa yang kamu anggap baik, dan jangan kamu laksanakan apa yang kamu anggap tidak baik!”. Dengan melaksanakan apa yang dianggap baik berarti pula menjaga nama baik dirinya sendiri, yang berarti menjaga nama baik keluarga juga.

Penjagaan nama baik sangat erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau boleh dikatakan nama baik atau tidak baik itu adalah dari tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan itu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan-perbuatan yang dihalalkan agama dan lain sebagainya.


OPINI : Setiap manusia harus adil satu dengan yang lainnya jangan hanya memikirkan egoisnya sendiri. kita diwajibkan untuk saling membantu dan adil. Keadilan sangat di perlukan dan dibutuhkan namun keadilan sekarang tidak berlaku lagi karena siapa yang kuat itu yang menang. Keadilan cuma hanya formalitas yang ada di negara kita buktinya keadilan itu sendiri bisa di beli, rakyat yang kecil selalu di tindas dengan rasa tidak keadilan. Dimana letak dari keadilan itu kalau pemerintah sendiri tidak pernah adil. Seharusnya mereka yang jadi pemimpin bangsa harus adil jangan hanya pandang bulu. Rakyat kecil mengharapkan sebuah keadilan dari negara. Siapa yang salah harus dihukum dan yang benar harus dibebaskan. Keadilan juga harus lebih di tegakkan jangan cuma karena di beri duit jadi keadilan yang sesungguhnya tidak seperti kenyataannya. Keadilan sangat diharapkan dan perlu penegasan dalam melakukannya.
Manusia Dan Kegelisahan

Kegelisahan

Kegelisahan berasal dari kata gelisah, yang berarti tidak tenteram hatinya, selalu merasa kwatir tidak tenang, tidak sabar, cemas. Sehingga kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tentram hati maupun perbuatannya, merasa kwatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan.

Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak gerik seseorang dalam situai tertentu. Kegelisahan merupakan salah satu ekspresi kecemasan. Karena itu dalam pengertian sehari-hari kegelisahan juga diartikan kecemasan, kekwatiran ataupun ketakutan. Masalh kecemasan atau kegelisahan berkaitan juga dengan masalah frustasi, yang secara definisi dapat disebutkan, bahwa seseorang mengalami frustasi karena pa yang diinginkan tidak tercapai.

Manusia dan Kegelisahan

source : google.com
Takut atau gelisah menurut istilah biasanya disebut ansietas. Ansietas merupakan suatu jenis neurosis yang tanda utamanya adalah rasa cemas atau takut berkebihan, sering sekali datangnya secara tiba- tiba, timbul sebagai akibat dari adanya konflik internal atau konflik dari dalam hati, misalnya perasaan tentang kehilangan seseorang atau sesuatu yang dicintainya.

Takut atau gelisah dalam bahasa arab sering disebut khauf yang artinya keadaan jiwa disaat manusia terancam.
Faktor terjadinya kegelisahan atau kecamasan :
1. Ketidakmampuan seorang dalamenghadapi kenyataan hidup.
2. Munculnya rasatakut tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan.
3. Situasi budaya kita yang belum mapan betul.
4. Adanya dorongan kegelisahan dari dalam hati nuraninya sendiri.
5. Adanya perasaan takut kehilangan hak maupun nama baiknya.
6. Karena sedang menunggu sesuatu.
7. Faktor dari luar yang terjadi karena lingkungan dimana ia tinggal dan masyarakat sekitarnya.

Sebab-sebab timbulnya rasa takut :

1. Kurang beriman
Pengaruh iman terhadap jiwa dan kehidupan manusia, diantaranya berani, sebab bagi yang beriman tidak ada yang l ebih kuat dari kekuatan Allah dan tidak ada kebesaran yang melebihi kebesaran Allah.
2. Kurang atau tidak yakin akan kekuatn diri sendiri
Kurang yakin akan kekuatan diri sendiri menjadi seorang yang pengecut, ancaman yang dihadapinya terasa begitu besar sebaliknya diri merasa kecil.
3. Karena merasa bersalah atau berdosa
Karena perbuatan dosa akan mengguncangkan jiwa dan menimbulkan keraguan didalam hatinya, oleh sebab itu orang yang jiwanya labil tidak akan memiliki keyakinan dan keberanian.

Penanggulangan Penderita Ansietas :
1. Menjelaskan kelainan yang dideritanya, yakni mengungkapkan trauma dimasa lampau yang mungkin mengakibatkan konflik dihatinya.
2. Psikoterapi, yakni memberikan kepastian dan keyakinan bahwa sang penderita akan selalu dilindungi fan dimengerti serta diberikan rasa simpati dan perhatian kepadanya.
3. Berupaya agar dirinya memasuki suatu keadaan yang rileks.
4. Mendekatkan diri kepada Allah.
5. Pemberian obat penenang

Bentuk-bentuk kegelisahan:

1. Keterasingan

Keterasingan mempunyai arti perihal yang berkenaan dengan ketersisihan dari pergaulan, terpencil atau terpisah dari yang lain.

Sumber-sumber dari keterasingan:
~ Perbuatan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat
contoh: mencuri, angkuh, keras kepala,dll
~ Sikap rendah diri, merasa tidak berharga karena cacat fisik, pendidikan rendah dan sebagainya

2. Kesepian

Perasaan sepi singgah dihati manusia tergantung dari masalah yang menimpa jiwa orang yang mengalaminya. Orang yang mengasingkan diriny sehingga terjadi kesepian mungkin karena kesombonganya atau sikap rendah dirinya. Namun sebab utama orang kesepian adalah takut kehilangan hak hidup dan hak memilih nama baik, selain itu juga disebabkan oleh frustasi.

3. Ketidakpastian

Orang yang pikiranya terganggu tidak lagi berpikir secara jernih, teratur untuk logis mengambil kesimpulan, karena dalam pikiranya selalu menerima rangsangan lain yang baru, sehingga pikiranya kacau.

4. Kecemasan

Menurut Sigmund Freud, kecemasan dibagi menjadi tiga macam:
a. Kecemasan tentang kenyataan
adalah suatu pengalaman perasaan sebagai akibat pengamatan suatu bahaya dalam dunia luar. Bahaya adalah sikap keadaan dalam lingkungan seseorang yang mengancam untuk mencelakakanya. Pengalaman bahaya dan timbulnya kecemasan mungkin dari sifat pembawaan, dalam arti kata bahwa seseorang mewarisi kecenderungan untuk menjadi takut kalau ia berada dekat dengan benda tertentu atau keadaan tertentu dilingkunganya.
b. Kecemasan neurotis (saraf)
ditimbulkan oleh suatu pengamatan tentang bahaya dari naluriah.Kecemasan neurotis dapat dibedakan dalam 3 bentuk:
~ Bentuk kecamasan yang berkisar dengan bebas dan menyesuaikan dirinya dengan segera pada lingkungan yang kiranya cocok.
~ Bentuk ketakutan yang tegang dan irrasional(phobia)
~ Reaksi gugup atau setengah gugup, reaksi ini munculnya secara tiba- tiba.
c. Kecemasan moril
merupakan suatu perasaan bersalah atau malu dalam ego, yang ditimbulkan oleh suatu pengamatan mengenai bahaya dari hati nurani.

Kegelisahan itu muncul ketika seseorang merasa tidak nyaman, ketidak pastian oleh sesuatu keadaan. Menurut saya jika seseorang sedang mengalami kegelisahan akan terlihat dari mimik wajah yang cemas, takut, terkadang ada yang sampai menatap dengan tatapan yang kosong. Dan juga dapat mempengaruhi psikologisnya seperti emosional, tidak tenang batinnya, pendiam dll.
Kejadian ini saya alami sekitar bulan September 2011 saat pertama kali kuliah di Universitas Gunadarma dan harus tinggal dikostan. Kegelisahan yang di rasakan pada saat itu, dimana saya harus hidup mandiri dengan lingkungan yang baru dikota orang tanpa ada yang saya kenal satupun. Saya berpikir ini di Depok besebelahan dengan Jakarta kota metropolitan, yang terkenal dengan kehidupan yang cukup keras dan persaingan antar manusianya itu sangat ketat. Bagaimana cara saya bisa bertahan hidup dikota ini? Dengan siapa saya harus berteman? Apakah saya bisa dan tahan hidup jauh dari keluarga disini?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang selalu muncul dalam pikiran saya. Seiring berjalannya waktu kegelisahan itu mulai berkurang dan saya mulai beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang yang ada disini.  Dan saya selalu ingatkan pada diri saya sendiri, bahwa kedatangan saya ke kota ini untuk mencari ilmu. Jadi bagaimanapun caranya saya harus bisa melawan kegelisahan itu. 

sumber :
- http://1stfauzi.blogspot.com/2012/06/manusia-dan-kegelisahan.html
- http://sherraadiantys.blogspot.com/2012/06/manusia-dan-kegelisahan.html
 Manusia dan keadilan

Pengertian kasih sayang menurut kamus umum bahasa Indonesia karangan W.J.S.Porwadarminta adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang  ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Percintaan muda-mudi (pria-wanita) bila diakhiri dengan perkawinan, maka didalam rumah tangga keluarga muda itu bukan lagi bercinta-cintaan, tetapi sudah bersifat kasih mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang. Dalam kasih sayang sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya,  saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang  bulat dan utuh.
 

Bila salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran, terancamlah kebahagian rumah tangga itu. Kasih sayang merupakan sesuatu paling mendasar, yang harus di terima oleh setiap manusia, kasih sayang bisa di sebut juga sabagai suatu hak yang harus kita terima, karena peran kasih sayang secara psikologi sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya seorang individu. Tentu seorang individu yang di didik dengan kasih sayang, bisa menjadi individu yang lebih baik di bandingkan mereka yang kekurangan kasih sayang. Karena dewasa ini, banyak sekali orang yang berpandangan bahwa uang adalah segala-galanya sehingga banyak orang tua yang lebih mementingkan mencari uang untuk anak, dan menomor dua kan kasih sayang. 

Sehingga tidak sedikit anak yang bertindak negative, melakukan hal negative yang biasa di sebut sebagai kenakalan remaja, umumnya hal itu terjadi di karenakan si anak merasa kurang di perhatikan oleh orang tuanya, dan dia melakukan hal-hal negative agar orang tuanya terganggu dan mulai memperhatikan anak tersebut. Tentu kurangnya kasih sayang harus di hindari oleh setiap orang tua, mulai memberikan kasih sayang yang lebih, dan menomor satukan kasih sayang. Tanpa kasih sayang seorang anak bisa berubah menjadi individu yang brutal, kurang perduli dengan lingkungan sekitar, dan bertindak sesuai dengan kemauan dirinya sendiri. Hal ini, terbtukti dari banyaknya penelitian, bahwa kenakalan remaja, paling banyak di karenakan factor didikan dan kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua tersebut.

Kasih sayang mengajarkan banyak hal terhadap manusia, kasih sayang memberikan kepekaan bagi kita semua, untuk berbagi kasih terhadap sesama, kasih sayang yang mampu merubah banyak individu yang umumnya perubahan terjadi kearah yang lebih baik. Baik itu terhadap sahabat, orang yang kita cintai, atau siapa pun yang kita lihat, karena begitu banyak orang di dunia ini yang membutuhkan kasih sayang dari orang lain, tidak semua orang beruntung memiliki orang tua, memiliki orang-orang yang di kasihinya, karena begitu banyak anak yang lahir tanpa kasih sayang orang tua, begitu banyak anak yang kelahirannya bahkan tidak di inginkan oleh orang tuanya, sehingga patutlah kita memberikan kasih sayang lebih terhadap anak-anak yatim piatu, dan kita harus bersyukur karena kita jauh lebih beruntung dari pada mereka. Bahkan keutamaan mengasihi anak yatim sangat di tekankan oleh rosulullah SAW.

Oleh karena itu rasa kasih sayang harus di tanamkan kepada siapa pun, tanpa mengenal siapa dia, dari mana asal usulnya. Dan kita utamakan mereka yang jauh lebih membutuhkan, semampu kita untuk mengasihi mereka.

Cinta dan Kasih adalah sesuatu yang sangat berkesan bagi semua manusia Makna cinta dan kasih yaitu sama semua menghasilkan makna yang tiada batas. Cinta adalah kekuatan manusia yang paling tinggi oleh karena itu semua orang memiliki cinta. Selain itu Cinta juga sumber kekuatan dari segalanya, kita tidak akan dapat mewujudkan setiap impian kita tanpa cinta karena cinta dapat memberikan dorongan dan motivasi terhadap diri seseorang.untuk menghasilkan sesuatu yang dinginnkan dapat tercapai dengan indah. Sedangkan kasih adalah perasaan sayang atau cinta kepada atau sangat menaruh belas kasihan. sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta, Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan. Banyak orang memaknakan arti cinta itu kepada pasangannya dan sedangkan kasih itu diberikan kepada ibu,ayah, adik,kakak, nenek,kakek,teman,sahabat,saudara lainya bahkan kita bisa memberikan kasih kepada orang lain yang belum kita kenal sebelumnya. walah sejauh ini terlihat berbeda antara cinta dan kasih, tetapi makna yang sesungguhnya adalah sama-sama memiliki rasa sayang terhadap seseorang. Tanpa kasih, cinta tidak akan muncul begitu saja sebaliknya. dan bukan hanya manusia yang mempunyai cintah dan kasih tetapi seluruh mahluk hidup di dunia memilikinya. 

Cinta kasih tidak selalu ditujukan kepada pasangan kita tetapi pada dasarnya cinta kasih adalah anugerah yang dianugerahkan tuhan kepada seluruh makhluk-mahluknya, misalnya , ketika seekor hewan yang hidup sendirian,sudah pasti nantinya akan mati dan tak tau arah,sama dengan manusia yang butuh akan mahluk lainnya untuk saling melengkapi.  seperti hewan dengan anaknya, ketika anaknya diganggu oleh hewan lainya dengan sendirinya induk dari anak hewan terebut melindungi anaknya.Naluri inipun ada pada manusia, dimulai dari cinta kasih orang tua kepada anaknya, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi naluri kasih sayang ini dapat tertutup jika terdapat hambatan – hambatan misalnya pertengkaran, permusuhan, ketidaksukaan dan lainnya.

 Kasih Sayang

Islam menghendaki agar kasih sayang dan sifah belas kasih dikembangkan secara wajar. Jika diperinci maka ruang lingkup kasih sayang ini dapat dibedakan menjadi beberapa tingkatan :
  1.     Kasih sayang dalam lingkungan keluarga, kasih orang tua kepada anak, kasih suami kepada istrinya, kasih antara orang yang bersaudara dan berkeluarga.
  2.     Kasih sayang dalam lingkungan bangsa, Perasaan kasih sayang dan simpati yang timbul akibat persamaan rumpun, suku bangsa, rasa senasib dalam perjuangan yang menyangkut kenegaraan.
  3.     Kasih sayang dalam lingkungan kegamanaan, Mencintai dan mengasihi sesame orang yang seagama karena memandang saudara dalam akidah dan keyakinan.
  4.     Kasih sayang dalam bentuk perikemanusiaan, Mencintai sesama manusia atas dasar pengertian bahwa manusia adalah sama – sama berasal dari satu keturunan, asalnya satu bapak dan satu ibu.
  5.     Kasih sayang kepada sesame mahluk (Universal), Misalnya saling mengasihi, mengasihi hewan dan tumbuh – tumbuhan. 

 Kasih sayang dalam diri pribadi seseorang, antara lain :
  •     Pemurah : Sikap infak, yakni rela membelanjakan harta bagi kepentingan keluarga dan ama social.
  •     Tolong menolong : sikap gotong royong
  •     Pemaaf : Berlapang dada, memafkan sahabat – sahabatnya yang pernah bersalah.
  •     Damai : Cenderung mengulurkan tangan, perdamaian kepada orang yang memusuhinya.
  •     Persaudaraan : Rasa kasih sayang kepada sesame mukmin dan muslim
  •     Menghubungkan tali kekeluargaan (Silaturahmi) : seorang muslim tidak akan senang memutuskan tali kekeluargaan.

Bentuk Wujud Cinta Kasih

Bentuk wujud cinta kasih manusia kepada penciptanya adalah pengabdian, kesetiaan, ketaatan dan sebagaimana. Sebagaimana keterikatan manusia kepada tuhannya. Sedangkan wujud cinta kasih makhluk hidup kepada sesamanya terbagi atas 3.Pertama cinta philiayakni seperti cinta kepada saudara, cinta kepada orang tua, cinta kepada teman, cinta kepada sesama. Yang kedua cinta eros yakni cinta yang menegakkan aspek ragawi (erotis).Yang ketiga cinta amor yakni cinta yang menekankan aspek psikologis dan emosi.Unsur cinta adalah keterikatan, keintiman dan kemesraan. Ketiganya menyatu dalam segitiga. Dan menjadi ketergantungan. Ketiga unsur cinta ini sama kuat. Namun jika ketiganya tidak sama-sama kuat akan mengakibatkan cinta yang hambar. Dan ada ketidak seimbangan antara yang satu dengan yang lainnya.

Sedangkan cinta kasih manusia kepada alam atau lingkungannya terwujud dalam bentuk menjaga lingkungan, menciptakan keserasian, keselarasan, keseimbangan dengan alam lingkungan sehingga dapat tercapai kehidupan yang aman dan tentram. Cinta kasih manusia kepada dirinya sendiri terwujud dalam bentuk menjaga dirinya sendiri unsur-unsur yang terdapat dalam cinta adalah simpati seperti kenal, tahu, pengertian, dan perhatian. dan emosi seperti pengorbanan, tanggung jawab, saling menghormati dan kasih sayang. Cinta kasih terjadi apabila perasaan simpati antara 2 subjek saling mengisi dan melengkapi sehingga terjadilah dinamika cinta. Setiap makhlukhidup memerlukan cinta dan kasih. Karena cinta dan kasih merupakan keperluan fundamental setiap makhluk hidup. Tanpa kita sadari dalam diri manusia terdapat cinta kasih. Emosi ini terjadi antara kita dan orang lain bahkan dengan ketidak sengajaan. Bahkan emosi ini juga terjadi antara manusia 1 kepada manusia lainnya yang belum kenal.

Kemesraan

Kemesraan berasal dari kata  mesra yang berarti erat atau karib sehingga kemesraan berarti hal yang menggambarkan keadaan sangat erat atau karib. Kemesraan juga bersumber dari cinta kasih dan merupakan realisasi nyata. Kemesraan dapat diartikan sama dengan kekerabatan, keakraban yang dilandasi rasa cinta dan kasih.

Tingkatan kemesraan dapat dibedakan berdasarkan umur, yaitu:
Kemesraan dalam Tingkat Remaja, terjadi dalam masa puber atau genetal pubertas yaitu dimana masa remaja memiliki kematangan organ kelamin yang menyebabkan dorongan seksualitasnya kuat.
Kemesraan dalam Rumah Tangga, terjadi antara pasangan suami istri dalam perkawinan. Biasanya pada tahun tahun wal perkawinan, kemesraan masih sangat terasa, namun bisa sudah agak lama biasanya semakin berkurang.
Kemesraan Manusia Usia Lanjut, Kemesraan bagi manusia berbeda dengan pada usia sebelumnya. Pada masa ini diwujudkan dengan jalan – jalan dan sebagainya.

Pemujaan

Pengertian pemujaan adalah salah satu investasi cinta manusia kepada Tuhan yang diwujudkan dalam kimunikasi ritual, karena pemujaan kepada Tuhan adalah inti, nilai dan makna kehidupan yang sebenarnya. Pemujaan dapat dilakukan dalam berbagai aspek seperti memuja pada leluhur,memuja pada agama tertentu dan kepercayan yang ada.seperti Pemujaan pada leluhur adalah suatu kepercayaan bahwa para leluhur yang telah meninggal masih memiliki kemampuan untuk ikut mempengaruhi keberuntungan orang yang masih hidup. Dalam beberapa budaya Timur, dan tradisi penduduk asli Amerika, tujuan pemujaan leluhur adalah untuk menjamin kebaikan leluhur dan sifat baik pada orang hidup, dan kadang-kadang untuk meminta suatu tuntunan atau bantuan dari leluhur. Fungsi sosial dari pemujaan leluhur adalah untuk meningkatkan nilai-nilai kekeluargaan, seperti bakti pada orang tua, kesetiaan keluarga, serta keberlangsungan garis keturunan keluarga.

Unsur tentang Cinta

cinta terdidri dari 3 unsur, yaitu:
1.keterikatan
2.keintiman
3.kemesraan

Tingkatan Cinta

cinta terdidri dari 3 tingkatan, yaitu:

1. Perasaan romantis
2. Ketertarikan fisik
3. Emosional lampiran


Sumber :

http://fansyahjournal.blogspot.com/2011/02/manusia-dan-kasih-sayang.html
http://www.ujank.web.id/Coretan-Tugas/manusia-dan-cinta-kasih.html
http://evaarwina.blogspot.com/2012/01/pengertian-kasih-sayang.html