CERPEN KEGELISAHAN...
Mulai
awal tahun ini hingga hari ini, ada satu kegelisahan yang mampir
menambah beberapa kegelisahan pikiran Z. Sang pendatang baru itu
benar-benar membuat Z pusing. Tidak tahu Z harus berdiri di posisi mana.
Semua pilihan sepertinya akan menuai salah. Bingung!
Sampai suatu hari,
di lima bulan silam, Z seperti menemukan diri Z (kemungkinan setelah
lulus kuliah beberapa bulan lagi, InsyaAllah) dalam tokoh Sandra di
cerpen Selamat Malam, Malam karya Benny Arnas. Maka Z postingkan cerpen
itu di rumah Z ini (Alhamdulillah pengarangnya telah mengizinkan ^_^).
Mungkin engkau pun mempunyai kegelisahan yang sama dengan Z dan Sandra,
serta engkau ternyata juga menemukan dirimu dalam Sandra. Setidaknya
kita bisa saling berbagi dan memberi masukan untuk mengurangi
kegelisahan itu (atau bahkan bisa memecahkannya, kan? :D)
Nah, selamat membaca! ^_^
*******************
Selamat Malam, Malam
(Dimuat di Harian Global Medan, Sabtu 3 Juli 2010)
Oleh : Benny Arnas
Di beranda
ini, kuhela napas perlahan. Mencoba melepaskan semua penat dan tuntutan
yang beberapa waktu terakhir berlomba-lomba memerudukkanku. Ah, tiada
apa yang bisa menjamin sebuah kebahagiaan, selain kemahiran bersikap
arif terhadap semua ketentuan, bukan?
Entah, apakah tengah
berfalsafah atau sekadar mengalihkan penyesalan-dan sedikit
keperihan-terhadap keputusanku satu bulan yang lalu untuk tidak ikut
serta dalam hajatan akbar itu. Aku tak tahu....
Yang coba kuselami
saat ini adalah, bahwa ada sekuntum sunyi yang masih betah berlama-lama
tumbuh di dahan malam yang basah. Entah bagaimana, kegelapan dan air
langit yang jatuh satu-satu di tempias daun pisang di salah satu sisi
pagar, seakan-akan sengaja bertaut demi merajut kesyahduan ini: Sebuah
potongan masa yang begitu asyik untuk ditekuni dengan bermenung-menung.
Ah, sepertinya aku terlalu mendramatisir keadaan, ya? Mungkin. Namun...
jujur, setidaknya itulah yang aku rasakan.
Aku tahu, dari gaya
tuturan yang kulontarkan pada mega yang belum menggantungkan bulan di
sana, mudahlah bagi kalian untuk menebak seperti apa perasaanku saat
ini. Bahagia; sedang jatuh cinta; mencari inspirasi untuk sebuah puisi
cinta; baru saja bertemu seorang CEO sebuah penerbitan yang-entah
bagaimana asal mulanya-mau menerbitkan sajak-sajakku; atau.... oww,
tidak, Kawan! Semua kemungkinan-kemungkinan yang elok didengar, wangi
diendus, dan (tentu saja) bergairah untuk diimpikan itu, tiadalah benar
adanya. Tak ada itu! Satu kata saja yang akan mewakili apa-apa yang
sedang berkeriapan dalam sanubariku: Sentimental.
Aku tak tahu,
bagaimana ketersentuhan psikologis itu menderaku. Aku hanya mencoba
meyikapi semua yang berlaku pada karib-karibku itu dengan kebijaksanaan
yang benar-benar kuupayakan. Aku tengah mengurainya menjadi sebuah
perasaan bahagia yang sejatinya memang layak kubahagiai.
"Sanra, lihatlah mereka! Berhasil semua, bukan?"
Aku hanya tersenyum
sabit ketika Ibu mengatakan itu beberapa hari yang lalu. Takkah Ibu
lihat bahwa aku sudah berupaya membantu keuangan keluarga dengan apa-apa
yang kubisa? Memang, mungkin, di mata sebagian sesiapa, apa-apa yang
kugiati masih dipandang seperdelapan mata, termasuk oleh orangtuaku
sendiri.
"Bukan itu perkaranya, Sanra. Bagaimana kalau kau tua nanti. Apa masih kuat bekerja? Mau kau kasih makan batu anak-binimu?"
Nah, pada Ayah, aku
tak semringah-raya ketika ia berkoar, menimpali kata-kata ibu
sebelumnya. Aku tak mau-bukannya takut-ayah justru menanggapi reaksiku
itu sebagai bentuk peremehan terhadap tuntutannya-bersama Ibu.
Memang sampai sejauh
ini, ketiga adikku tak banyak menuntut seperti kedua orangtuaku. Namun,
itu hanya masalah pembicaraan di permukaan. Maria yang kini kuliah di
semester VII di sebuah Universitas di luar kota pernah mengatakan bahwa
rumah kami di Perumnas akan dijualnya demi berpenghidupan dengan cara
itu. Aku sempat menentang niatannya itu, namun Ayah dan Ibu justru
membelanya.
"Kakak takut tak dapat warisan rumah itu, kan?"
Kalau tak ingat kalau adikku itu adalah seorang perempuan, sudah kugampar ia saat itu juga.
Masri. Adikku nomor
dua yang kuliah di semester awal di sekolah tinggi setingkat universitas
di kota ini tentu saja masih belum dapat dipastikan bagaimana prinsip
hidupnya: berseberangan atau selurusan denganku. Yah, semua berlaku
karena hingga kini, biaya kuliahnya masih menjadi tanggunganku. Ketika
telah diwisuda kelak, mungkinlah dapat terbaca, akan kemana pikirannya
mengembara demi sebuah pekerjaan-mungkin juga kehormatan.
Bagaimana dengan si
bungsu? Ai ai, terlalu subuh membicarakan bagaimana Dika yang masih
kelas tiga SD itu mencanangkan hari depannya: Menyunggi-nyunggi sebuah
gengsi (mungkin semu atau... entahlah!) dan strata 'terpandang' di
tengah-tengah masyarakat, atau memilih berpenghidupan dengan apa-apa
yang sekiranya bisa diperjuangkan sesuai dengan kecakapan yang
dipunyainya. Ah, masih lama itu....
Cicak-cicak yang
bercericikan di dekat ventilasi pintu, sekejap mengalihkan lamunanku.
Tiba-tiba mataku seakan tersadar pada keadaan sekitar: Malam yang masih
merangkak pelan-pelan.
Hai Malam, ada apa
dengan mereka yang bersembunyi di balik jubah kelammu itu? Mengapa belum
jua mereka menebar lampion biru segilima itu di sekujur gelapmu?
Ya ya ya,
dimafhumilah, bebintang itu tertahan dalam renjananya karena malam masih
rinai. Serombongan rintik masih setengah memaksa menyeruak dari
kelam-raya, berganti-gantian melubangi tanah pekarangan ini. Ah,
kadangkala aku berprasangka, bahwa mereka tengah menghiburku dengan
instrumentalia alamnya, kesunyiannya yang memainkan melodi yang
menyayat-nyayat.
"Sudahlah Sanra, kau teruskan saja pekerjaanmu berwirausaha itu?"
Terimakasih rinai
atas pembelaan (atau hanya penghiburan?!) itu. Terimakasih sekuntum
sunyi. Terimakasih sebatang malam. Terimakasih... oh ya, apakah aku
harus mengucapkan kata itu padamu juga, wahai angin? Atas semua
kabar-kabar yang bukan kabar-kabari yang kaukabarkan padaku beberapa
hari yang lalu yang menjadi musabab kesemuanya: kemarahan ayah yang
memuncak; kekesalan ibu yang remuk-redam; hingga perubahan sikap
karib-karibku itu.
Yah, karib-karibku
yang dulu kerap menyambangiku dan berdiskusi hangat di beranda ini,
tiada pernah menampakkan batang hidungnya lagi.
Dulu, ada-ada saja
yang kami bincangkan. Mulai dari kelambanan pemerintah menangani korban
bencana alam, kesan ketidakpedulian mereka terhadap penjajahan Israel
pada Palestina, tentang berbelit-belitnya birokrasi di negeri ini,
tentang walikota terpilih yang ingkar janji, bla bla bla.... Kritis.
Tajam. Menusuk hingga meletuskan gelembung adrenalin kami.
Dan... yang masih
segar dalam ingatan adalah, kami semua pernah sama-sama turun ke jalan
beberapa bulan yang lalu, demi menuntut penegakkan hukum terhadap
beberapa orang dekat petinggi pemerintahan daerah yang terlibat kasus
korupsi namun dibebaskan dalam sebuah persidangan tertutup.
"Baca itu, Sanra!"
Entah aku lupa, ayah
atau ibu yang menyodorkan koran itu padaku di suatu pagi buta. Yang
jelas, dengan sangat-sangat terang kulihat di sana. Nama-nama
kawan-kawan diskusiku di antara leretan panjang nama-nama lain yang
disertai nomor (entah nomor apa?) dan tanggal lahir mereka.
Tiba-tiba, suara
sedikit riuh dari dalam rumah membuyarkan lamunan dan pengaduanku pada
romantisme malam ini. Kulihat ayah, ibu, Masri, dan Dika sudah di muka
pintu.
"Sanra, tadi adikmu Maria menelpon..."
"Ada bukaan di bulan depan!" Ibu memotong kalimat Ayah dengan semangat.
"Iya, Kak. Jangan nggak ikut lagi, ya?" timpal Masri.
Kulihat Dika hanya
melongo memperhatikan mereka yang tiba-tiba saja berbicara dengan
penekanan yang serius. Tak lama, ia mengalihkan pandangan ke arahku.
Keningku berlipat tiga, mempersilakan ia melempar kebingungan padaku.
"Tadi, abis Kak Maria nelpon, Ibu, Ayah, dan Kak Masri ribut-ribut..."
Hening.
"... PNS itu apa sih, Kak?" tanya Dika polos.
Aku bergegas meraih
tubuh adik bungsuku itu. Menggendong sambil mengelitiknya, sebelum
bergegas ke dalam. Meninggalkan Ayah, Ibu, Andika, dan sekuntum sunyi
yang masih saja tumbuh di sebatang malam yang kelam, yang masih basah,
yang kian resah.***