A. Indonesia Zaman Prasejarah dan Sejarah
Zaman ini ditandai dengan belum adanya tulisan dan
aksara. Pada zaman ini wilayah nusantara telah dihuni oleh penduduk asli yang
tinggal di tepi-tepi sungai . Bukti dari adanya penduduk asli tersebut adalah
dengan ditemukannya fosil “ Homo Soloensis” didaerah Sangiran dan
Ngandong.”Manusia Solo pada zaman itu dikenal sebagai “Phitecantropus Erectus”
yang diterjemahkan sebagai “kera yang berjalan tegak”. Mereka telah
meninggalkan berbagai macam benda budaya yang dibuat dari bahan
batu(menhir/batu pemujaan, kapak batu dan sebagainya).
Asal-usul Bangsa Indonesia. Menurut beberapa catatan
sejarah berdasarkan penelitian para ahli, bangsa Indonesia berasal dari daerah
Yunani. Ini berdasarkan beberapa persamaan perbendaharaan kata. Mereka datang
secara bergelombang melalui Semenanjung Melayu menuju Sumatra. Gelombang
pertama disebut Melayu Tua dan menjadi pendukung kebudayaan Neolitikum.
Gelombang kedua disebut Melayu Muda dengan kebudayaan perunggu. Dari penelitian
tentang hasil-hasil yang ditemukan, dapat diketahui bahwa mereka telah memiliki
nilai-nilai kehidupan, religi dan gotong royong.
B.
Zaman Dipengaruhi Oleh Nilai-nilai Hindu
Sebelum
kedatangan Hinduisme, di nusantara telah ada negara-negara merdeka dengan
bentuk “ kerajaan-kerajaan”. Seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan
Timur dsb. Dengan masuknya budaya Hindu, kerajaan-kerajaan tersebut menyambut
agama dan budaya Hindu dengan melakukan akulturasi. Terbentuklah budaya
Indonesia Hindu. Sejak itu wilayah Indonesia memasuki zaman Sejarah, dimana
tulisan mulai dikenal. Tulisan-tulisan dengan huruf Palawa dan bahasa
Sansekerta dapat ditemukan diberbagai prasasti. Dari prasasti yang
ditemukan dapat diketahui bahwa pada abad ke lima di nusantara telah
terdapatkehidupan yang telah terorganisir secara rapi dan teratur.
Kerajaan
yang bercirikaan Hinduisme antara lain adalah Kutai di Kalimantan Timur,
Mataram di Jawa Tengah, Tarumanegara di
Jawa Barat, Singosari, Majapahit di Jawa Timur, dsb. Selain kerajaan Hindu
terdapat juga kerajaan yang mengembangkan agama Budha seperti Sriwijaya di
Sumatera Selatan. Kerajaan-kerajaan tersebut pada umunya meninggalkan
tempat-tempat ibadat seperti Candi Prambanan, Baka, Penataran, Borobudur, dsb.
Bukti-bkti
yang ditemukan, baik yang berupa parasasti, candi ataupun istana-istana bahkan
juga buku-buku memberi informasi kepada
kita bahwa pada masa itu masyarakat nusantara telah memperkaya penghayatan dan
pengamalan nilai-nilai religius dengan nilai religius Jawa Hindu begitu juga
penghayatan dan pengamalan kemanusiaan tidak terlepas dari ajaran Jawa Hindu.
C.
Indonesia Dipengaruhi Oleh Nilai-nilai Islam
Kerajaan
besar Hindu terakhir di Jawa adalah Majapahit. Majapahit runtuh bersamaan
dengan perkembangan agama Islam di Jawa. Demak yang tadinya merupakan bandar
kerajaan Majapahit, masuk Islam dan berkembang menjadi sebuah kerajaan Islam .
Kerajaan majapahit terdesak mundur,dan banyak orang-orang Hindu yang
menyelamatkan diri ke Bali. Setelah Demak, berturut-turut berdiri kerajaan
Islam dipesisir Cirebon, Banten, Makasar, Ternate, Tidore, Samudera Pasai, dll.
Masuknya
nilai-nilai Islam secara langsung telah mempengaruhi pola piker, sikap dan
perbuatan masyarakat nusantara waktu itu yang menyambut agama dan islam dengan
terbuka. Hal ini mempekaya nilai-nilai khasanah budaya bangsa tanpa
menghilangkan nilai-nilai budaya asli.
D.
Indonesia dipengaruhi oleh Nilai-nilai Kristen
Pada awal abad
ke 16, wialayah nusantara kedatanganbangsa dari Eropa yang membawa nilai budaya
Kristen. Kapal-kapal dagang Portugis, Belanda yang bertujuan mencari
sumber-sumber rempah-rempah membawa misionaris (pendeta, imam katolik). Para
misionaris inilah yang memperkenalkan aagama dan budaya hidup Kristen kepada penduduk
yang tinggal disekitar pantai.
Sedikit demi sedikit nilai-nilai agama dan kultur
Kristen, meresapi sebagian penduduk. Penduduk yang sudah menganut agam Kristen
(Juga yang sudah menjadi Hindu, Islam dan Budha) tidak meninggalkan nilai-nilai
budaya lama. Dengan demikian nilai-nilai Kristen juga telah memperkaya budaya
bangsa di bidang religious, kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan penghayatan
akan keadilan.
E.
Kebangkitan Nasional
Gerakan nasional ditanah air
dilatarbelakangi
adanya pergolakan kebangkitan di dunia timur, yaitu munculnya kesadaran akan
kekuatannya sendiri, antara lain :
·
Filipina (1898) dipimpin oleh
Jose Rizal
·
Jepang (1905) kemenangan atas
Rusia di Tunisia
·
China (1911) dipimpin oleh Sun
Yat Zen, china melawan jepang
·
India yang dipelopori oleh
Nehru dan mahatma Gandhi melawan inggris
·
Indonesia 2 mei 1908
dipelopori oleh Dr. Soetomo dan Dr.
Wahidin Soediro Hoesodo (Boedi Oetomo), pergerakan bangsa nasional yang
merupakan kebangkitan akan kesadaran kebangsaan (nasional).
Mulanya
pergerakan-pergerakan yang didirikan berasakan kooperatif, namun perkembangan
jaman berubah menjadi non kooperatif dan awalnya bertujuan untuk perdangan,
sosial, agama, dan pendidikan namun meningkat menjadi sebuah tuntutan politik
yaitu Indonesia merdeka.
Tujuan
merdeka kata-katanya dipelopori oleh kaum muda dari seluruh nusantara, mulai
dari :
·
Jawa jong Java
·
Sulawesi Jong Celebes
·
Ambon Jong Ambon
·
Sumatra Jong Sumatra
Sedangkan untuk
tokoh-tokoh pemudanya anatra lain :
·
Moh. Yamin
·
Wongsonegoro
·
Kuncoro Probopranoto
Kongres
ke II pada tanggal 28 Oktober 1928, ikrar tersebut diwujudkan dalam sumpah pemuda “ berbangsa satu, bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa indonesia, dan
bertanah air satu tanah air indoneisa “ bersamaan dikumandangkan lagu
indoneisa raya ciptaan W.R. supratman.
F.
Masa Kemerdekaan
(1945-1949)
Kurun waktu ini adalah masa revolusi fisik karena bangsa Indonesia harus
berjuang kembali mempertahankan negara dari rongrongan penjajah yang tidak mau
mengakui kemerdekaan Indonesia. Pada masa ini juga terjadi penyimpangan sistem
pemerintahan dari presidensial menjadi parlementer, karena NKRI berubah menjadi
negara RIS sesuai dengan hasil sidang KMB.
Namun keadaan ini tidak bertahan lama, karena pada tanggal 17 Agustus 1950 negara
RIS berubah menjadi NKRI dengan UUDS’50. Tapi ternyata pelaksanaan UUDS’50 itu
tidak memuaskan rakyat dan stabilitas nasional tidak dapat tercapai. Pada masa
itu terjadi pergantian kabinet sebanyak, 7 kali yaitu:
1.
Kabinet
Natsir (6-9-1950 s/d 27-4-1951)
2.
Kabinet
Sukirman (27-4-1951 s/d 3-4-1952)
3.
Kabinet
Wilopo (3-4-1952 s/d 1-8-1953)
4.
Kabinet Ali
Sastroamijoyo I (1-8-1953 s/d 12-8-1955)
5.
Kabinet
Burhanudin Harahap, (12-8-1955 s/d 24-3-1956)
6.
Kabinet Ali
Sastroamijoyo II (24-3-1956 s/d 9-4-1957)
7.
Kabinet
Juanda (9-4-1957 s/d 10-7-1959)
Karena seringnya pergantian kabinet, konstituante mengadakan sidang namun
selalu gagal, sehingga Presiden mengeluarkan Dekrit Presiden pada tanggal 5
Juli 1959.
G.
Masa Orde
Lama (1959-1966)
Orde lama mulai
pada tanggal 5 Juli 1959 hingga 11 Maret 1966 saat diserahkannya Supersemar
oleh Presiden kepada Letjen Soeharto. Di masa ini banyak terjadi penyelewengan
terhadap Pancasila, misalnya Nasakom, pengangkatan Presiden seumur hidup, dan
pembubaran DPR oleh Presiden. Ciri-ciri Orde Lama adalah sebagai berikut:
1.
Mempunyai
landasan idil Pancasila dan landasan struktural UUD 1945.
2.
Mempunyai
tujuan:
a.
Membentuk
NKRI yang berbentuk kesatuan dan kebangsaan yang demokratis.
b.
Membentuk
suatu masyarakat yang adil dan makmur baik materil maupun spiritual dalam wadah
NKRI.
c.
Membentuk kerja
sama yang baik dengan semua negara di dunia, terutama dengan negara-negara di
kawasan Asia-Afrika
d.
Melaksanakannya
dengan meluruskan segala cara.
H.
MASA ORDE BARU
Orde
Baru lahir sejak diselenggarakannya seminar TNI/AD yang kedua di Seskoad Bandung
pada tanggal 25 s/d 31 Agustus 1966. Ciri-ciri Orde Baru hampir sama
dengan Orde Lama, kecuali landasannya yang sedikit mengalami
perubahan. Landasan konstitusionalnya tetap UUD 1945, tetapi landasan
strukturalnya adalah kabinet Ampera sedangkan landasan operasionalnya adalah Tap
MPR sejak sidang umum ke IV tahun 1966.
Selain
itu, tujuannya adalah menegakkan kebenaran dan keadilan demi Ampera,
Tritura, dan Hanura secara konstitusional. Adapun pelaksanaan Pancasila
dilakukan secara murni dan konsekuen. Orde Baru menghendaki kepentingan
nasional tetapi tidak meninggalkan komitmen antikolonialisme.
Orde
Baru menginginkan suatu tatanan hidup, perekonomian dan politik yang stabil
serta melaksanakan cita-cita demokrasi politik. Strategi dan taktik Orde Baru ini tercermin dalam
program kabinet Ampera.
I.
MASA REFORMASI
Dalam
proses reformasi dewasa ini, terdapat berbagai pendapat dan kajian untuk
mengamandemen UUD 1945, karena UUD 1945 harus bersifat fleksibel, yaitu mampu
menyesuaikan diri dengan perkembangan bangsa dan negara Indonesia.
Keinginan untuk mengamandemen itu juga muncul karena adanya sifat
“muitiinter-pretable” pada pasal-pasal UUD 1945, sehingga mengakibatkan
adanya sentralisasi kekuasaan terutama Presiden di masa Orde Lama maupun
Orde Baru.
Melalui
Sidang Umum MPR tahun 1999, SidangTahunan MPR tahun 2000, Sidang Tahunan MPR
2001, dan Sidang Tahunan MPR 2002, UUD 1945 telah mengalami perubahan
(amandemen). Perubahan ini dimaksudkan untuk menyempurnakan Batang
Tubuh UUD 1945 dan tidak mengubah Pembukaan UUD 1945. Karena
Pembukaan UUD 1945 merupakan ikrar berdirinya Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan ia memuat Pancasila sebagai Dasar Negara, MPR berketetapan hati
untuk tidak mengubahnya. Pembukaan UUD 1945 serta amandemen UUD 1945
berdasarkan Sidang Umum MPR 1999, Sidang Tahunan MPR 2000, Sidang
Tahunan MPR 2001, dan Sidang Tahunan MPR 2002.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.unhas.ac.id/lkpp/Pancasila.pdf&ved=0CBoQFjABOBQ&usg=AFQjCNHlcntqXaEOmrT6TjtLv4kp-WqUBQ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar