Rabu, 08 Oktober 2014

PANCASILA DALAM KONTEKS SEJARAH PERJUANGAN BANGSA INDONESIA



A.               Indonesia Zaman Prasejarah dan Sejarah
Zaman ini ditandai dengan belum adanya tulisan dan aksara. Pada zaman ini wilayah nusantara telah dihuni oleh penduduk asli yang tinggal di tepi-tepi sungai . Bukti dari adanya penduduk asli tersebut adalah dengan ditemukannya fosil “ Homo Soloensis” didaerah Sangiran dan Ngandong.”Manusia Solo pada zaman itu dikenal sebagai “Phitecantropus Erectus” yang diterjemahkan sebagai “kera yang berjalan tegak”. Mereka telah meninggalkan berbagai macam benda budaya yang dibuat dari bahan batu(menhir/batu pemujaan, kapak batu dan sebagainya).
Asal-usul Bangsa Indonesia. Menurut beberapa catatan sejarah berdasarkan penelitian para ahli, bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunani. Ini berdasarkan beberapa persamaan perbendaharaan kata. Mereka datang secara bergelombang melalui Semenanjung Melayu menuju Sumatra. Gelombang pertama disebut Melayu Tua dan menjadi pendukung kebudayaan Neolitikum. Gelombang kedua disebut Melayu Muda dengan kebudayaan perunggu. Dari penelitian tentang hasil-hasil yang ditemukan, dapat diketahui bahwa mereka telah memiliki nilai-nilai kehidupan, religi dan gotong royong.

B.                 Zaman Dipengaruhi Oleh Nilai-nilai Hindu
Sebelum kedatangan Hinduisme, di nusantara telah ada negara-negara merdeka dengan bentuk “ kerajaan-kerajaan”. Seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Timur dsb. Dengan masuknya budaya Hindu, kerajaan-kerajaan tersebut menyambut agama dan budaya Hindu dengan melakukan akulturasi. Terbentuklah budaya Indonesia Hindu. Sejak itu wilayah Indonesia memasuki zaman Sejarah, dimana tulisan mulai dikenal. Tulisan-tulisan dengan huruf Palawa dan bahasa Sansekerta dapat ditemukan diberbagai prasasti. Dari prasasti yang ditemukan dapat diketahui bahwa pada abad ke lima di nusantara telah terdapatkehidupan yang telah terorganisir secara rapi dan teratur.
Kerajaan yang bercirikaan Hinduisme antara lain adalah Kutai di Kalimantan Timur, Mataram di Jawa Tengah, Tarumanegara  di Jawa Barat, Singosari, Majapahit di Jawa Timur, dsb. Selain kerajaan Hindu terdapat juga kerajaan yang mengembangkan agama Budha seperti Sriwijaya di Sumatera Selatan. Kerajaan-kerajaan tersebut pada umunya meninggalkan tempat-tempat ibadat seperti Candi Prambanan, Baka, Penataran, Borobudur, dsb.
Bukti-bkti yang ditemukan, baik yang berupa parasasti, candi ataupun istana-istana bahkan juga buku-buku memberi  informasi kepada kita bahwa pada masa itu masyarakat nusantara telah memperkaya penghayatan dan pengamalan nilai-nilai religius dengan nilai religius Jawa Hindu begitu juga penghayatan dan pengamalan kemanusiaan tidak terlepas dari ajaran Jawa Hindu.

C.                Indonesia Dipengaruhi Oleh Nilai-nilai Islam
Kerajaan besar Hindu terakhir di Jawa adalah Majapahit. Majapahit runtuh bersamaan dengan perkembangan agama Islam di Jawa. Demak yang tadinya merupakan bandar kerajaan Majapahit, masuk Islam dan berkembang menjadi sebuah kerajaan Islam . Kerajaan majapahit terdesak mundur,dan banyak orang-orang Hindu yang menyelamatkan diri ke Bali. Setelah Demak, berturut-turut berdiri kerajaan Islam dipesisir Cirebon, Banten, Makasar, Ternate, Tidore, Samudera Pasai, dll.
Masuknya nilai-nilai Islam secara langsung telah mempengaruhi pola piker, sikap dan perbuatan masyarakat nusantara waktu itu yang menyambut agama dan islam dengan terbuka. Hal ini mempekaya nilai-nilai khasanah budaya bangsa tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya asli.

D.                Indonesia dipengaruhi oleh Nilai-nilai Kristen
   Pada awal abad ke 16, wialayah nusantara kedatanganbangsa dari Eropa yang membawa nilai budaya Kristen. Kapal-kapal dagang Portugis, Belanda yang bertujuan mencari sumber-sumber rempah-rempah membawa misionaris (pendeta, imam katolik). Para misionaris inilah yang memperkenalkan aagama dan budaya hidup Kristen kepada penduduk yang tinggal disekitar pantai.
Sedikit demi sedikit nilai-nilai agama dan kultur Kristen, meresapi sebagian penduduk. Penduduk yang sudah menganut agam Kristen (Juga yang sudah menjadi Hindu, Islam dan Budha) tidak meninggalkan nilai-nilai budaya lama. Dengan demikian nilai-nilai Kristen juga telah memperkaya budaya bangsa di bidang religious, kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan penghayatan akan keadilan.

E.                 Kebangkitan Nasional
Gerakan nasional ditanah air dilatarbelakangi adanya pergolakan kebangkitan di dunia timur, yaitu munculnya kesadaran akan kekuatannya sendiri, antara lain :
·         Filipina (1898) dipimpin oleh Jose Rizal
·         Jepang (1905) kemenangan atas Rusia di Tunisia
·         China (1911) dipimpin oleh Sun Yat Zen, china melawan jepang
·         India yang dipelopori oleh Nehru dan mahatma Gandhi melawan inggris
·         Indonesia 2 mei 1908 dipelopori  oleh Dr. Soetomo dan Dr. Wahidin Soediro Hoesodo (Boedi Oetomo), pergerakan bangsa nasional yang merupakan kebangkitan akan kesadaran kebangsaan (nasional).

Mulanya pergerakan-pergerakan yang didirikan berasakan kooperatif, namun perkembangan jaman berubah menjadi non kooperatif dan awalnya bertujuan untuk perdangan, sosial, agama, dan pendidikan namun meningkat menjadi sebuah tuntutan politik yaitu Indonesia merdeka.
Tujuan merdeka kata-katanya dipelopori oleh kaum muda dari seluruh nusantara, mulai dari :
·         Jawa jong Java
·         Sulawesi Jong Celebes
·         Ambon Jong Ambon
·         Sumatra Jong Sumatra
Sedangkan untuk tokoh-tokoh pemudanya anatra lain :
·         Moh. Yamin
·         Wongsonegoro
·         Kuncoro Probopranoto
Kongres ke II pada tanggal 28 Oktober 1928, ikrar tersebut diwujudkan dalam sumpah pemuda “ berbangsa satu, bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa indonesia, dan bertanah air satu tanah air indoneisa “ bersamaan dikumandangkan lagu indoneisa raya ciptaan W.R. supratman.

F.                 Masa Kemerdekaan (1945-1949)
Kurun waktu ini adalah masa revolusi fisik karena bangsa Indonesia harus berjuang kembali mempertahankan negara dari rongrongan penjajah yang tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia. Pada masa ini juga terjadi penyimpangan sistem pemerintahan dari presidensial menjadi parlementer, karena NKRI berubah menjadi negara RIS sesuai dengan hasil sidang KMB.
Namun keadaan ini tidak bertahan lama, karena pada tanggal 17 Agustus 1950 negara RIS berubah menjadi NKRI dengan UUDS’50. Tapi ternyata pelaksanaan UUDS’50 itu tidak memuaskan rakyat dan stabilitas nasional tidak dapat tercapai. Pada masa itu terjadi pergantian kabinet sebanyak, 7 kali yaitu:
1.      Kabinet Natsir (6-9-1950 s/d 27-4-1951)
2.      Kabinet Sukirman (27-4-1951 s/d 3-4-1952)
3.      Kabinet Wilopo (3-4-1952 s/d 1-8-1953)
4.      Kabinet Ali Sastroamijoyo I (1-8-1953 s/d 12-8-1955)
5.      Kabinet Burhanudin Harahap, (12-8-1955 s/d 24-3-1956)
6.      Kabinet Ali Sastroamijoyo II (24-3-1956 s/d 9-4-1957)
7.      Kabinet Juanda (9-4-1957 s/d 10-7-1959)
Karena seringnya pergantian kabinet, konstituante mengadakan sidang namun selalu gagal, sehingga Presiden mengeluarkan Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959.


G.                Masa Orde Lama (1959-1966)
Orde lama mulai pada tanggal 5 Juli 1959 hingga 11 Maret 1966 saat diserahkannya Supersemar oleh Presiden kepada Letjen Soeharto. Di masa ini banyak terjadi penyelewengan terhadap Pancasila, misalnya Nasakom, pengangkatan Presiden seumur hidup, dan pembubaran DPR oleh Presiden. Ciri-ciri Orde Lama adalah sebagai berikut:
1.      Mempunyai landasan idil Pancasila dan landasan struktural UUD 1945.
2.      Mempunyai tujuan:
a.       Membentuk NKRI yang berbentuk kesatuan dan kebangsaan yang demokratis.
b.      Membentuk suatu masyarakat yang adil dan makmur baik materil maupun spiritual dalam wadah NKRI.
c.       Membentuk kerja sama yang baik dengan semua negara di dunia, terutama dengan negara-negara di kawasan Asia-Afrika
d.      Melaksanakannya dengan meluruskan segala cara.

H.                MASA ORDE BARU
Orde Baru lahir sejak diselenggarakannya seminar TNI/AD yang kedua di Seskoad Bandung pada tanggal 25 s/d 31 Agustus 1966. Ciri-ciri Orde Baru hampir sama dengan Orde Lama, kecuali landasannya yang sedikit mengalami perubahan. Landasan konstitusionalnya tetap UUD 1945, tetapi landasan strukturalnya adalah kabinet Ampera sedangkan landasan operasionalnya adalah Tap MPR sejak sidang umum ke IV tahun 1966.
Selain itu, tujuannya adalah menegakkan kebenaran dan keadilan demi Ampera, Tritura, dan Hanura secara konstitusional. Adapun pelaksanaan Pancasila dilakukan secara murni dan konsekuen. Orde Baru menghendaki kepentingan nasional tetapi tidak meninggalkan komitmen antikolonialisme.
Orde Baru menginginkan suatu tatanan hidup, perekonomian dan politik yang stabil serta melaksanakan cita-cita demokrasi politik. Strategi dan taktik Orde Baru ini tercermin dalam program kabinet Ampera.

I.                   MASA REFORMASI
Dalam proses reformasi dewasa ini, terdapat berbagai pendapat dan kajian untuk mengamandemen UUD 1945, karena UUD 1945 harus bersifat fleksibel, yaitu mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan bangsa dan negara Indonesia. Keinginan untuk mengamandemen itu juga muncul karena adanya sifat “muitiinter-pretable” pada pasal-pasal UUD 1945, sehingga mengakibatkan adanya sentralisasi kekuasaan terutama Presiden di masa Orde Lama maupun Orde Baru.
Melalui Sidang Umum MPR tahun 1999, SidangTahunan MPR tahun 2000, Sidang Tahunan MPR 2001, dan Sidang Tahunan MPR 2002, UUD 1945 telah mengalami perubahan (amandemen). Perubahan ini dimaksudkan untuk menyempurnakan Batang Tubuh UUD 1945 dan tidak mengubah Pembukaan UUD 1945. Karena Pembukaan UUD 1945 merupakan ikrar berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ia memuat Pancasila sebagai Dasar Negara, MPR berketetapan hati untuk tidak mengubahnya. Pembukaan UUD 1945 serta amandemen UUD 1945 berdasarkan Sidang Umum MPR 1999, Sidang Tahunan MPR 2000, Sidang Tahunan MPR 2001, dan Sidang Tahunan MPR 2002.



DAFTAR PUSTAKA



https://www.unhas.ac.id/lkpp/Pancasila.pdf&ved=0CBoQFjABOBQ&usg=AFQjCNHlcntqXaEOmrT6TjtLv4kp-WqUBQ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar